Skip to content

Kita terlalu sibuk membangun nama di dunia, tetapi lupa mempersiapkan hidup yang abadi.

Oleh: Erinus Kum | Naronews.com NARONEWS.COM — Saat ini, dunia mengajarkan manusia untuk terus mengejar berbagai hal: pendidikan, pekerjaan, jabatan, kekayaan, popularitas, rumah, kendaraan, hingga kesuksesan besar. Banyak orang menghabiskan sebagian besar...

4 minutes read 0 comments

Oleh: Erinus Kum | Naronews.com

NARONEWS.COM — Saat ini, dunia mengajarkan manusia untuk terus mengejar berbagai hal: pendidikan, pekerjaan, jabatan, kekayaan, popularitas, rumah, kendaraan, hingga kesuksesan besar. Banyak orang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk membuat sesuatu yang bisa membuat mereka dikenal dan dihargai orang lain.

Namun, di tengah sibuknya mengejar kehidupan dunia, sering kali ada satu pertanyaan penting yang terlewat: mengapa kita terus berusaha mencapai hal-hal itu, jika hidup di dunia ini akhirnya akan berakhir?

Kita terlalu sibuk membangun nama di dunia, tapi kadang lupa mempersiapkan kehidupan abadi. Orang bisa kaya raya, tapi tidak bisa membawa semua uang dan barangnya ketika meninggalkan dunia ini. Orang bisa memiliki posisi yang besar, tapi posisi itu tidak akan bertahan selamanya. Nama seseorang bisa diingat karena karyanya, tetapi kehidupan manusia tetap punya batasnya.

Dunia Hanya Sementara

Dunia menawarkan banyak hal yang terlihat indah. Kadang-kadang, keberhasilan seseorang diukur berdasarkan kesuksesan, penghargaan, popularitas, kekayaan, dan pencapaian yang telah dicapai.

Tidak salah jika Anda bekerja keras, belajar, membangun masa depan, berkarya, dan mencapai impian Anda. Semua hal tersebut adalah bagian dari tugas manusia saat hidup di dunia ini.

Namun, masalahnya muncul ketika dunia menjadi tujuan akhir.Ketika manusia hanya memikirkan hal-hal yang terlihat dan lupa pada hal-hal yang abadi, hidup bisa kehilangan tujuannya. Manusia bisa mencapai banyak hal, tapi hatinya tetap terasa hampa.

Alkitab mengingatkan dalam Markus 8:36:

“Apa manfaatnya seseorang mendapatkan seluruh dunia, tetapi kehilangan hidupnya?” Pertanyaan ini bukan sekadar pertanyaan tentang kekayaan. Ini adalah pertanyaan tentang prioritas hidup. Karya bisa diingat, tetapi hidup akan berakhir.Kita mungkin ingin menghasilkan karya yang besar. Kita ingin nama kita dikenal. Kita berharap meninggalkan sesuatu yang akan diingat oleh orang-orang di masa depan.

Itu adalah keinginan yang manusiawi.Namun, ada perbedaan antara membangun sesuatu yang diingat oleh manusia dan membangun kehidupan yang menyenangkan Tuhan.

Karya bisa menjadi warisan untuk dunia, tetapi sikap, keyakinan, kasih sayang, dan cara kita hidup di hadapan Tuhan jauh lebih penting. Sebab pada akhirnya, bukan hanya soal pertanyaan “Apa yang sudah saya capai?” tapi juga pertanyaan “Bagaimana saya menjalani hidup ini?”

Bukan hanya “Berapa banyak orang mengenal saya?” tetapi “Apakah hidup saya memiliki makna di hadapan Tuhan?”

Jangan sampai sukses di dunia ini, tapi kehilangan arah hidup. Ada orang yang akhirnya meraih impian yang selama ini dicita-citakannya, tetapi setelah itu merasa bahwa keberhasilan itu tidak langsung membuat hidupnya tenang.

Ada juga yang terlalu ingin dicintai orang lain hingga lupa menghabiskan waktu bersama keluarga, teman, bahkan Tuhan. Kita harus berhenti sebentar dan bertanya pada diri sendiri: Jika suatu hari semua posisi dihilangkan, harta benda habis, popularitas berhenti, dan nama kita tidak lagi disebut orang, apa yang masih ada dalam hidup kita?

Pertanyaan itu mungkin terdengar mudah, tapi jawabannya bisa mengubah cara seseorang hidup.

Karena hidup bukan hanya tentang sampai ke mana saja atau sejauh apa kita bisa sampai, tetapi juga tentang arah dari perjalanan hidup kita.

Mencari Hidup yang Lebih Panjang dari Dunia

Kehidupan dunia memiliki batas. Kita tidak tahu berapa lama waktu yang Tuhan berikan kepada setiap orang. Oleh karena itu, selama manusia masih diberi kesempatan untuk hidup, ia harus menggunakan hidupnya secara bijak.

Berkarya, tetapi jangan melupakan Tuhan.

Mengejar pendidikan, tetapi jangan kehilangan karakter. Membangun karier, tetapi jangan mengorbankan nilai-nilai kehidupan. Mencari kesuksesan, tapi jangan sampai menjadikan kesuksesan sebagai tuhan. Memiliki harta benda, tapi jangan sampai harta benda itu yang mengendalikan hati kita.

Hidup yang bermakna bukan hanya tentang berhasil menurut cara orang biasa mengukur. Hidup yang bermakna adalah hidup yang bisa memberi manfaat bagi orang lain dan tetap mengarah kepada Tuhan.

Dunia Akan Berlalu, Tetapi Apa yang Kekal?

Suatu hari, perjalanan kita di dunia akan berakhir. Rumah yang kita bangun akan ditinggalkan. Jabatan akan berganti. Harta akan berpindah tangan. Popularitas akan berlalu.

Tetapi kehidupan tidak berhenti hanya pada hal-hal yang bisa dilihat dengan mata. Bagi orang yang beriman, hidup di dunia adalah perjalanan menuju keabadian. Oleh karena itu, hidup sekarang sebaiknya tidak hanya digunakan untuk mengejar hal-hal yang sementara, tetapi juga untuk bersiap menghadapi kehidupan yang abadi bersama Tuhan.

Roma 6:23 mengingatkan bahwa anugerah Allah adalah kehidupan yang abadi dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Oleh karena itu, jangan sampai kita menghabiskan seluruh hidup hanya untuk menciptakan nama di dunia, tetapi lupa membangun kehidupan yang menyenangkan Tuhan.

Pada Akhirnya, Apa yang Akan Tersisa?

Mungkin dunia akan mengenal karya kita. Mungkin nama kita akan tertulis dalam sejarah. Mungkin orang akan mengingat pencapaian kita. Namun, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Apakah hidup kita telah menjadi berkat?

Apakah kita telah hidup dalam kasih?

Apakah kita sudah memanfaatkan bakat yang Tuhan berikan dengan baik?

Apakah kita telah mempersiapkan kehidupan kekal?

Kita tidak dilarang untuk memiliki mimpi besar. Kita tidak dilarang untuk sukses. Kita juga diharuskan untuk berkarya dan memberikan yang terbaik sepanjang hidup.

Tetapi jangan biarkan dunia menjadi tujuan akhir.

Bangunlah nama, tetapi jangan kehilangan jiwa.

Bangunlah karya, tetapi jangan kehilangan iman.

Kejar masa depan, tetapi jangan lupakan kekekalan.

Sebab dunia ini hanya sementara. Apa yang kita miliki hari ini suatu saat nanti akan kita tinggalkan.

Akhirnya, yang paling penting bukanlah seberapa besar nama kita di dunia, melainkan bagaimana kita menjawab tanggung jawab atas kehidupan yang Tuhan serahkan kepada kita.

Hidup ini singkat. Jangan hanya berusaha menjaga kesehatan tubuh agar bisa hidup lama di dunia ini, tetapi juga persiapkan hati agar bisa merasakan kehidupan yang abadi bersama Tuhan.

Leave a comment

Write a Comment

Verified by MonsterInsights