Video singkat viral di mensos. pemerinta Papua Tenggah, Naronews Gubernur papua Tenggah tersenum rakyat di bunuh abis oleh kolonialisme indonesia: (dok) Naronews.com

PAPUA TENGAH – Di tengah suasana optimis yang diciptakan melalui pernyataan publik yang menyatakan Papua “aman”, suara-suara dari daerah terpencil justru menceritakan hal yang sangat berbeda. Seorang pejabat publik dengan tenang tersenyum, menangkis kekhawatiran masyarakat di luar Papua dengan alasan bahwa isu kekerasan hanyalah “hoaks” atau berita yang tidak benar.

Namun, di balik narasi “Papua Aman” tersebut, tanah Papua tengah dilanda pertumpahan darah.

Kontras yang Menyakitkan

Ada luka yang tidak terpengaruh oleh kata-kata manis. Saat pejabat itu percaya diri menyatakan bahwa situasi aman, masyarakat di Puncak, Intan Jaya, Puncak Jaya, dan wilayah lain justru menghadapi ketakutan yang nyata. Konflik bersenjata yang berkepanjangan telah menimbulkan penderitaan mendalam bagi penduduk sipil.

Mereka bukan hanya angka dalam statistik; mereka adalah individu yang kehilangan rumah, anak-anak yang terputus dari sekolah, dan keluarga yang hidup dalam bayang-bayang trauma. Setiap suara senjata dan setiap tetes darah yang jatuh di tanah pegunungan menjadi bukti nyata bahwa kondisi di lapangan jauh dari istilah “aman”.

Di Mana Nurani Pemerintahan?

Sangat menyedihkan melihat bagaimana jabatan pemerintahan yang seharusnya menjadi tempat lahirnya solusi dan perlindungan bagi rakyat, kini tampak tidak peduli dengan penderitaan yang terjadi. Ketika narasi keamanan dijadikan prioritas demi citra politik, sementara keamanan sesungguhnya rakyat diabaikan, di situlah legitimasi kemanusiaan mulai diragukan.

Menganggap fakta kekerasan sebagai “hoaks” bukan hanya bentuk pengabaian terhadap kenyataan, tetapi juga penghinaan terhadap penderitaan yang dirasakan oleh para korban.

Apakah senyum di depan kamera bisa menghapus duka seorang ibu yang kehilangan anaknya? Apakah pernyataan “Papua Aman” bisa memperbaiki sekolah-sekolah yang terbakar atau mengembalikan rasa percaya masyarakat terhadap negara?

Papua tidak memerlukan narasi yang membingungkan kesadaran publik. Papua membutuhkan keadilan, kedamaian yang sejati, dan pemimpin yang mau mendengarkan tangisan warganya, bukan sekadar mempercantik citra dari balik meja kerja yang nyaman.