
foto: REUTERS/Nathan Howard
Jakarta – Pendekatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap konflik di Iran mengalami perubahan mendalam dalam waktu singkat. Dari ancaman untuk melakukan perang terbuka dan pengerahan pasukan di Selat Hormuz, tiba-tiba mengusulkan solusi damai, tindakan Washington sekarang dianggap mencerminkan ketidakpastian strategi AS di tengah meningkatnya ketegangan Timur Tengah
Pada akhir pekan lalu, Trump masih mengeluarkan ancaman tegas kepada Iran, menekankan bahwa Teheran belum mendapatkan “hukuman yang proporsional. ” Namun, situasi segera berubah setelah Gedung Putih meluncurkan operasi yang dinamakan *Project Freedom* pada Selasa (5/5/2026). Operasi ini diakui sebagai misi kemanusiaan untuk membantu kapal-kapal keluar dari Teluk sekaligus membatasi pengaruh Iran di Selat Hormuz.
Namun, beberapa jam setelah pengumuman tersebut, Trump kembali mengubah langkahnya. Dalam rilis terbarunya pada Rabu dini hari, ia mengklaim bahwa telah ada kemajuan signifikan menuju perjanjian damai antara Washington dan Teheran. Bahkan, Project Freedom disebut-sebut ditangguhkan sementara untuk memberi ruang bagi negosiasi.
Perubahan sikap yang cepat ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat kini terjebak dalam situasi yang sulit. Tindakan militer yang dilakukan tidak berhasil memaksa Iran untuk menyerah, sedangkan ancaman penutupan Selat Hormuz justru dapat merugikan perekonomian global, termasuk bagi kepentingan Amerika sendiri.
Beberapa analis berpendapat bahwa pemerintahan Trump terjebak dalam “jeratan geopolitik”: sudah terlalu jauh untuk mundur, tetapi juga terlalu berisiko untuk melanjutkan perang yang tak berujung. Iran dipandang bisa bertahan meski mengalami serangan, dan pengaruh Teheran di wilayah itu belum lenyap.
Walau Trump mulai merintis jalur diplomasi, ia tetap menyampaikan ancaman untuk melakukan serangan yang lebih intensif jika Iran menolak syarat yang diajukan Washington.
Di tengah ketegangan tersebut, beberapa laporan dari media internasional mengindikasikan bahwa AS, Iran, dan mediator dari Pakistan semakin mendekati kesepakatan awal yang berupa memorandum of understanding (MoU). Dokumen ini dilaporkan akan menjadi dasar untuk menghentikan perang sementara dan membuka perundingan selama 30 hari mengenai program nuklir Iran, pencabutan sanksi AS, serta pencairan aset Iran yang dibekukan.
Sebagai bagian dari proses negosiasi, kedua pihak disebutkan akan mulai secara bertahap mengurangi blokade di Selat Hormuz. Berita ini langsung berdampak pada penurunan harga minyak global dan peningkatan pasar saham di seluruh dunia, meski situasinya masih dianggap sangat rentan.
Dari pihak Iran, respons yang muncul tetap hati-hati. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menunjukkan sinyal positif menuju kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz, namun belum ada persetujuan resmi yang diberikan. Pemerintah Iran juga menegaskan bahwa langkah penghentian blokade harus menjadi prioritas sebelum melanjutkan negosiasi lebih lanjut.
Juru bicara parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, bahkan menyebut tawaran AS sebagai “daftar harapan Amerika, bukan sebuah kenyataan. ”
Diperkirakan bahwa negosiasi akan berjalan dengan sulit. Sebelum konflik meletus, Iran pernah menawarkan penangguhan pengayaan uranium selama lima tahun, sementara AS menuntut penghentian selama 20 tahun. Saat ini, keduanya sedang mencari titik temu di kisaran 12 hingga 15 tahun.
Iran juga dilaporkan bersedia menerima kembali inspeksi permanen dari badan pengawas nuklir PBB, International Atomic Energy Agency, sebagai bagian dari kesepakatan baru. Sebagai imbalannya, miliaran dolar aset Iran yang saat ini dibekukan akan dicairkan secara bertahap dan sanksi ekonomi AS akan mulai dilonggarkan.
Meski begitu, perjalanan menuju kedamaian tetap penuh dengan keraguan. Setiap perjanjian yang ada dapat menghadapi penolakan dari Israel jika tidak mencakup program rudal Iran dan kelompok proksi Teheran di wilayah tersebut.
Saat ini muncul pertanyaan penting di arena internasional: apakah kesepakatan yang sedang dibahas bisa dicapai tanpa adanya konflik dan serangan udara yang telah mengguncang wilayah tersebut?
