Yahukimo, Papua Pegunungan – Tempat di mana insiden penembakan pilot terjadi di Bandara Ipdeheik, menarik perhatian publik baik nasional maupun internasional serta menghidupkan kembali diskusi mengenai konflik, hak asasi manusia, dan keadilan bagi semua korban yang ada di Papua. (Foto: Dokumen/NARONEWS. COM)

YAHUKIMO, PAPUA, NARONEWS.COM – Kematian pilot asal Amerika, Nicholas F. Goselin, akibat serangan terhadap pesawat dari Associated Mission Aviation (AMA) di Ipdeheik, Yahukimo, pada tanggal 2 Juli 2026, menarik perhatian besar dari media baik nasional maupun internasional. Pemerintah melakukan kecaman keras terhadap kejadian tersebut, sedangkan proses investigasi terus berlanjut.

Di tengah banyaknya perhatian terhadap tragedi ini, muncul kembali pertanyaan dari sebagian penduduk Papua: mengapa banyak warga sipil Papua yang meninggal dalam konflik bertahun-tahun tidak mendapatkan perhatian publik yang setara?

Menurut Erinus Kum, pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk meremehkan nilai kemanusiaan dari setiap korban.

“Kami bersedih atas kehilangan pilot tersebut. Setiap kehidupan manusia sangat berharga. Namun kami juga berharap ribuan korban akibat konflik di Papua, yang telah kehilangan keluarga dan rumah selama bertahun-tahun, mendapatkan perhatian, pengakuan, dan keadilan yang sama.”

Konflik bersenjata di berbagai daerah seperti Nduga, Intan Jaya, Puncak, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Maybrat, Dogiyai, dan lokasi lainnya telah menyebabkan banyak korban, baik yang mengalami luka-luka maupun mengungsi dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai organisasi yang peduli hak asasi manusia dan Komnas HAM telah berkali-kali menyerukan perlindungan bagi warga sipil serta penyelidikan terhadap setiap dugaan pelanggaran hak asasi manusia.

Erinus Kum menilai bahwa negara memiliki tanggung jawab yang setara terhadap seluruh warga negara, tanpa membedakan latar belakang atau identitas mereka.

“Negara harus menunjukkan bahwa setiap nyawa memiliki nilai yang sama. Ketika ada dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap masyarakat Papua, proses hukum dan perhatian publik harus dilakukan secara transparan dan adil.”

Diskusi mengenai cara media meliput konflik di Papua telah lama menjadi isu yang diperhatikan oleh para akademisi, aktivis hak asasi manusia, dan lembaga masyarakat sipil. Beberapa pihak berpendapat bahwa tragedi yang melibatkan warga negara asing cenderung mendapatkan perhatian internasional yang lebih besar, sementara penderitaan warga sipil Papua sering kali tidak mendapatkan jumlah liputan yang setara. Di sisi lain, berbagai redaksi media umumnya menetapkan prioritas laporan berdasarkan berbagai faktor, termasuk nilai berita, dampak internasional, dan akses terhadap informasi.

Untuk keluarga korban di Papua, yang diharapkan bukan hanya perhatian sesaat, tetapi juga penegakan kebenaran, perlindungan untuk warga sipil, keadilan yang transparan, dan penghormatan terhadap hak hidup setiap individu.

Setiap korban, baik dari Papua maupun warga negara asing, memiliki martabat yang setara. Keadilan akan lebih berarti jika diberikan kepada semua korban tanpa membedakan latar belakang mereka.