Foto: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu
JAKARTA – Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya tegang kini mendekati kesepakatan damai yang historis. Namun, rencana besar ini dilaporkan hampir gagal akibat tindakan provokatif yang dilakukan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Perdamaian yang diupayakan melalui saluran diplomasi ini direncanakan akan ditandatangani secara resmi pada Jumat, 19 Juni 2026, di Swiss.
Gencatan Senjata Menyeluruh dan Abadi
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, sebagai salah satu mediator utama, mengumumkan bahwa kedua belah pihak telah menyetujui untuk mengakhiri semua bentuk konfrontasi bersenjata.
“Kedua pihak telah setuju untuk segera dan secara permanen menghentikan semua operasi militer di berbagai daerah, termasuk Lebanon,” kata Sharif dalam laporan (CNN dan AFP).
Saat ini, para mediator sedang mengatur pertemuan pra-pelaksanaan untuk membahas rincian teknis sebelum acara penandatanganan resmi di Swiss pada akhir pekan ini.
Tanggapan Trump: Blokade Selat Hormuz Ditiadakan
Presiden AS Donald Trump segera mengonfirmasi suksesnya kesepakatan ini melalui media sosial yang dirintisnya, (Truth Social). Trump menyatakan bahwa sengketa dengan Teheran telah diakhiri dan langsung memerintahkan pembukaan jalur perairan penting di dunia.
- Penghapusan Blokade: AS mencabut blokade laut yang berlaku di Selat Hormuz.
- Dampak Global: Tindakan ini diharapkan dapat mengembalikan kestabilan dalam pasokan minyak dan memperlancar distribusi minyak dunia dengan cepat.
Klaim “Kemenangan Militer” dari Iran
Di sisi lain, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa negaranya berkomitmen pada (Memorandum of Understanding) (MoU) yang dibuat bersama Islamabad. Menariknya, Gharibabadi tidak menganggap kesepakatan ini sebagai sekadar kompromi diplomatik, melainkan sebuah pencapaian bagi Teheran.
“Musuh yang berusaha untuk mencapai tujuan jahatnya telah gagal dalam semua upayanya. Republik Islam Iran meraih kemenangan besar dalam konflik ini,” ungkap Gharibabadi.
Kritik Netanyahu, Trump: “Dia Sangat Sulit”
Di balik keberhasilan ini, terdapat ketegangan antara Trump dan Netanyahu. Dalam wawancara eksklusif dengan (New York Times), Trump secara terbuka mengkritik Perdana Menteri Israel tersebut karena hampir saja merusak seluruh proses perdamaian.
Pemicu ketegangan ialah serangan militer Israel di Beirut selatan, Lebanon, yang mengakibatkan tiga orang meninggal dan 15 lainnya terluka. Serangan ini terjadi pada waktu gencatan senjata masih berlaku.
Kritik Tajam Trump Terhadap Israel:
- Tindakan Egois: Trump menilai serangan Israel tersebut “tidak seharusnya terjadi” pada saat-saat penting menjelang kesepakatan damai.
- Klaim Penyelamatan: Trump menyebut Netanyahu tidak bersyukur. Ia mengklaim kesepakatan ini justru membantu Israel terhindar dari ancaman kehancuran total.
“Dia (Netanyahu) orang yang sangat sulit. Dan jujur, dia seharusnya sangat berterima kasih kepada kita karena telah melakukan ini. Karena jika Iran memiliki senjata nuklir, Israel tidak akan bertahan lebih dari dua jam,” tambah Trump.
