Foto: Pemimpin Amerika Serikat Donald Trump mengacungkan jarinya dalam pertemuan kabinet di Ruang Kabinet Gedung Putih, Washington, D. C. , pada 27 Mei 2026. (REUTERS/Evan Vucci)

JAKARTA, NARONEWS. COM – Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sepertinya masih berada dalam kondisi yang sangat tidak stabil. Meskipun kedua pihak baru saja menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk gencatan senjata sementara, Presiden AS Donald Trump segera mengeluarkan ancaman serius. Ia menegaskan akan segera melakukan serangan militer besar kembali jika Teheran melanggar perjanjian damai yang baru saja disepakati.

Pernyataan yang bersifat provokatif ini diungkapkan Trump saat pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Prancis. Di hadapan para wartawan, Trump secara terus terang memperingatkan bahwa Washington siap untuk memulai perang lagi jika mereka menilai Iran tidak mematuhi isi perjanjian tersebut. Tindakan ini dilakukan untuk memastikan bahwa Teheran benar-benar menghormati kesepakatan internasional yang baru saja diteken secara digital oleh kedua pemimpin negara.

Poin-poin Penting dalam Kesepakatan 60 Hari yang Masih Rentan

Ketegangan ini muncul setelah Washington dan Teheran mengumumkan MoU yang berisi 14 poin penting. Dokumen yang bersejarah ini ditandatangani secara digital oleh Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk memperpanjang masa gencatan senjata selama 60 hari ke depan. Langkah ini diambil untuk memberi peluang lebih luas bagi negosiasi menuju perdamaian permanen, setelah konflik bersenjata yang melelahkan antara kedua negara sejak akhir Februari.

Namun, kesepakatan ini tampaknya belum sepenuhnya mengikat dengan kuat. Seorang pejabat senior dari pemerintahan AS mengungkapkan bahwa masih ada peluang bagi kedua belah pihak untuk membatalkan komitmen tersebut sepihak. Pembatalan diperbolehkan setidaknya sampai dokumen perjanjian yang bersifat mengikat sepenuhnya benar-benar ditetapkan dan disetujui bersama.

Secara umum, MoU transisi ini mencakup sejumlah klausul utama yang dianggap dapat memberikan dampak positif bagi ekonomi global. Beberapa di antaranya adalah penghentian total aktivitas militer di semua area tempur, pembukaan kembali rute pelayaran internasional yang penting di Selat Hormuz, serta pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan strategis Iran. Selain itu, kesepakatan ini juga membahas pelonggaran sanksi ekonomi global, pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan, serta program rehabilitasi ekonomi yang diperkirakan bernilai fantastis mencapai US$300 miliar atau sekitar Rp5. 310 triliun.

Perubahan Sikap Trump dan Permasalahan Nuklir yang Menghantui

Di sisi lain, pemerintah Iran kembali menegaskan komitmen mereka untuk tidak mengembangkan program senjata nuklir. Namun, jalan menuju perdamaian yang langgeng diperkirakan akan tetap sulit karena sejumlah isu sensitif masih menjadi hambatan besar dalam negosiasi. Beberapa isu krusial yang belum terpecahkan mencakup kepemilikan uranium yang telah diperkaya oleh Teheran, pengendalian kemampuan rudal balistik Iran, serta dukungan logistik dan finansial Teheran terhadap kelompok-kelompok militan yang menentang Israel di kawasan Timur Tengah.

Menariknya, perubahan ini juga menunjukkan adanya perubahan dalam pandangan politik Donald Trump jika dibandingkan dengan saat dimulainya konflik. Awalnya, ia memiliki ambisi yang besar untuk menghancurkan sepenuhnya fasilitas pertahanan dan sistem rudal Iran, tetapi kini billionaire terkenal tersebut terlihat lebih bersikap lunak. Trump secara terbuka mengakui bahwa keberadaan rudal balistik di Iran sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya terlarang, mengingat beberapa negara lain juga memiliki sistem pertahanan yang serupa, dan menurutnya, adalah tidak adil jika hal tersebut dilarang secara sepihak.

Respons Positif G7 dan Kritikan Keras untuk Netanyahu

Inisiatif perdamaian ini sejatinya mendapatkan dukungan dan sambutan positif dari para pemimpin negara anggota G7. Dalam pernyataan bersama, pemimpin negara dari Prancis, Jerman, Inggris, Jepang, Italia, Kanada, serta AS menekankan pentingnya mengutamakan pendekatan diplomasi yang preventif. Hal ini dianggap sangat penting untuk memastikan Iran tidak dapat mengembangkan senjata nuklir sambil menjaga stabilitas geopolitik di wilayah yang tengah mengalami ketegangan.

Meski harapan untuk perdamaian mulai muncul di panggung internasional, kondisi nyata di wilayah Timur Tengah sendiri masih sangat belum stabil. Tak lama setelah gencatan senjata diumumkan, terjadi kembali bentrokan bersenjata antara angkatan bersenjata Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon.

Menanggapi situasi ini, Trump bahkan tidak ragu untuk memberikan kritik secara terbuka kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Ia menilai bahwa sekutunya itu terlalu agresif dalam melaksanakan tindakan militer di Lebanon. Secara blak-blakan, Trump meminta Netanyahu untuk menurunkan intensitas serangan dan bersikap lebih lunak di lapangan demi menjaga momentum upaya perdamaian di kawasan tersebut.