Presiden RI Prabowo Subianto. Foto: Biro Sekretariat Presiden Pidato 24 juni 2026
JAKARTA – Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah sedang mempersiapkan langkah teknologi yang cukup berani dan ambisius. Dengan rencana yang signifikan, Kecerdasan Buatan (AI) akan diterapkan langsung untuk mendukung salah satu program sosial yang paling diperhatikan saat ini: Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut draf peraturan presiden (Perpres) yang baru-baru ini bocor, pemerintah berencana untuk mengintegrasikan AI dalam beragam program strategis nasional dari tahun 2026 hingga 2029. Jumlah anggaran yang dapat digunakan sangat besar, mencapai USD 15 miliar atau sekitar Rp 269,3 triliun.
Jadi, apa tujuan AI hadir dalam pengelolaan makanan di sekolah, dan apakah ini memang aman untuk keuangan negara?. Mengapa MBG Memerlukan AI? (Aspek Positif) Mengatur penyediaan makanan gratis bagi jutaan anak di seluruh Indonesia setiap hari adalah tantangan besar dalam hal logistik. Di sinilah posisi AI yang berfungsi seperti “pekerja cerdas” yang dapat mengelola operasional secara digital. Tugasnya mencakup:
- Pengelola Menu Lokal: AI akan menilai ketersediaan bahan makanan lokal di setiap area, memastikan menu yang dihidangkan selalu segar, bergizi, dan menggunakan produk petani setempat tanpa memicu kenaikan harga.
- Pengawas Kebersihan: Menggunakan kamera pengawas dengan teknologi AI, kebersihan dapur umum akan dipantau secara (langsung) untuk mendeteksi kemungkinan kontaminasi sebelum makanan dikirim.
- Pengelola Stok (Anti-Pemborosan): AI akan memprediksi jumlah porsi dengan akurat agar tidak ada makanan yang terbuang (food waste).
- Benteng Melawan Korupsi: Sistem ini akan secara otomatis mengidentifikasi jika ada ketidaksesuaian dalam laporan keuangan atau penyimpangan distribusi bahan baku.
Secara keseluruhan, penerapan AI dalam skala besar ini diperkirakan dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hingga 12% (sekitar USD 366 miliar) pada tahun 2030, dan sekaligus menarik perhatian investor besar dari perusahaan teknologi global seperti Microsoft dan Meta.
Sisi Negatif: Potensi Kerugian untuk Negara dan Efek Buruk, Di balik kelebihannya, langkah ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan para ahli. Ada beberapa hal yang perlu diwaspadai:
Risiko Proyek Gagal di Wilayah TerpencilInvestasi dalam sistem AI yang bernilai triliunan rupiah dapat berisiko menjadi tidak efektif jika infrastruktur dasarnya belum memadai. Bagaimana mungkin AI dapat mengawasi dapur umum jika jaringan internet di daerah terpencil masih sering mengalami masalah atau pasokan listriknya tidak stabil?
Ketergantungan dan Pengeluaran ke Negara Asing, Derwin Suhartono, Guru Besar AI dari Universitas Bina Nusantara, memberi peringatan bahwa Indonesia saat ini belum bersaing di panggung global. Bila talenta dan infrastruktur chip dalam negeri tidak ada, anggaran ratusan triliun itu dikhawatirkan akan habis untuk membeli lisensi dan mempekerjakan teknologi dari perusahaan luar negeri.
Isu Keamanan dan Ancaman Baru, Integrasi data kesehatan anak dan sistem biometrik menciptakan celah baru untuk potensi kebocoran data sensitif dan ancaman kejahatan siber seperti deepfake.
Kenapa Kehadiran AI Tetap Penting?..Meskipun ada banyak risiko, pemerintah tampak tidak memiliki alternatif lain untuk menyelamatkan program MBG. Mengingat evaluasi sebelumnya, program makanan gratis mengalami masalah citra akibat isu transparansi anggaran, dugaan penyimpangan dalam pembangunan dapur, hingga insiden keracunan makanan yang menimpa banyak siswa.
AI hadir sebagai alat untuk mengurangi kesalahan manusia (human error) dan menutup celah korupsi struktural yang selama ini menghantui program bantuan sosial tradisional.
Menjadikan kecerdasan buatan sebagai “tenaga kerja” dalam Program Makan Sehat Gratis merupakan langkah yang berwawasan jauh ke depan, tetapi risikonya sangat besar. Agar tidak menjadi masalah yang merugikan negara, pemerintah perlu memastikan bahwa dana kedaulatan AI yang dikelola oleh Danantara Indonesia benar-benar diarahkan untuk membangun infrastruktur yang ada di dalam negeri.
Jika berhasil, Indonesia akan menciptakan sejarah baru dalam pengelolaan pemerintahan secara digital. Namun, jika tidak dilaksanakan dengan baik, AI hanya akan menjadi nama mahal untuk sebuah proyek sosial.
