Dampak Serangan Udara di Kilang Minyak Bapco, Bahrain. Pulau Sitra, Bahrain — 9 Maret 2026. REUTERS / Stringer (TPX IMAGES OF THE DAY).
JAKARTA – Kementerian Luar Negeri Bahrain mengutuk dengan sangat tegas serangan terbaru yang menggunakan rudal balistik dan pesawat drone yang dilakukan oleh Iran. Pemerintah Bahrain menegaskan bahwa tindakan agresif ini merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara mereka.
Menurut laporan dari Al Jazeera, pernyataan resmi yang dikeluarkan melalui Kantor Berita Bahrain menegaskan bahwa peningkatan militer ini telah mengganggu potensi untuk meredakan konflik. Serangan tersebut juga dianggap sebagai ancaman terhadap upaya menjaga stabilitas keamanan di seluruh wilayah Timur Tengah.
Sebagai langkah diplomatik, Kementerian Luar Negeri Bahrain mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera mengadakan pertemuan darurat. Bahrain berharap masyarakat internasional akan mengambil langkah konkret untuk menyudahi agresi yang berlanjut dan meminta pertanggungjawaban penuh dari Iran.
“Kementerian Luar Negeri Bahrain menegaskan haknya untuk melindungi kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayahnya sesuai dengan hukum internasional, serta meminta agar rezim Iran dimintai pertanggungjawaban atas setiap eskalasi yang disebabkan oleh tindakan agresif mereka,” demikian isi pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Bahrain.
Sirine Pertahanan Berbunyi, Warga Diminta Mengungsi
Seiring dengan situasi keamanan yang semakin memprihatinkan, pemerintah Bahrain kembali mengaktifkan sirine pertahanan udara di beberapa lokasi di kota. Melalui pengumuman resmi di platform X (sebelumnya Twitter), pihak berwenang meminta masyarakat agar tetap tenang namun waspada.
“Warga dan penduduk diminta untuk tetap kalem, bergerak menuju lokasi yang aman, dan mengikuti informasi terbaru melalui saluran resmi,” begitu bunyi pernyataan darurat tersebut. Warga diajak untuk segera evakuasi demi menghindari implikasi buruk akibat serangan selanjutnya.
Rincian Lengkap Peristiwa: Untuk memahami asal-usul konflik besar ini, berikut adalah daftar kronologi yang dihimpun dari berbagai sumber:
1. Kapan Peristiwa Ini Terjadi?
Serangan balasan dan pernyataan resmi yang menentang dari Bahrain terjadi pada hari Minggu, 28 Juni 2026. Namun, ketegangan bersenjata ini sebenarnya merupakan lanjutan dari konflik yang sudah mulai membara sejak awal tahun, termasuk insiden serangan terhadap Kilang Minyak Bapco di Pulau Sitra pada 9 Maret 2026.
2. Di Mana Lokasi Serangan Berlangsung?
Serangan rudal dan drone dari Iran ini menyasar beberapa lokasi kunci milik militer Amerika Serikat yang ada di dua negara Teluk, yaitu:
– Bahrain: Pangkalan angkatan laut Armada Kelima AS yang berlokasi di Pelabuhan Salman.
– Kuwait: Pangkalan Udara Ali al-Salem yang dikelola oleh militer AS.
3. Mengapa Konflik Ini Kembali Pecah? (Awal Mula)
Menurut laporan AFP, keadaan memburuk setelah Amerika Serikat dan Iran saling menuduh mengenai pelanggaran kesepakatan gencatan senjata yang selama ini rentan. Tuduhan ini menyebabkan terputusnya dan semakin ketatnya jalannya negosiasi diplomatik yang sebenarnya bertujuan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Ketegangan semakin meningkat setelah laporan mengenai serangan awal oleh militer AS ke dalam wilayah Iran.
4. Bagaimana Serangan Tersebut Dilakukan?
Sebagai bentuk balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung melakukan serangan balik dengan meluncurkan gelombang rudal balistik dan drone. Dalam pernyataan resminya, IRGC mengklaim bahwa mereka telah berhasil menghancurkan delapan fasilitas militer penting milik Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain.
Pihak Garda Revolusi Iran juga memberikan peringatan serius kepada AS dan sekutunya untuk tidak melakukan tindakan balasan.
“Setiap tindakan agresif dari lawan, apapun alasannya, bahkan terhadap sasaran yang tidak penting. . . akan dibalas dengan penghancuran,” ancam secara jelas pihak Garda Revolusi Iran.
