Ilusrasi Menjadi Anak Tuhan di Luar Dinding Gereja Gambar (dok) Naronws
NARONEWS — Dalam kesibukan sehari-hari yang penuh dengan kebisingan, Tuhan seringkali beroperasi melalui momen-momen kecil yang tak terpikirkan sebelumnya. Ini juga berlaku untuk pengalaman yang saya alami beberapa hari yang lalu. Momen ini tidak hanya menyentuh hati saya, tetapi juga mengingatkan saya mengenai makna sejati menjadi pengikut Kristus.
Sebuah Sapaan di Tengah Perjalanan
Hari itu, saya berjalan kaki seperti biasanya. Tidak ada yang istimewa atau religius dalam pikiran saya; hanya rutinitas harian. Namun tiba-tiba, seorang ibu memanggil saya dari jarak yang cukup jauh.
Dengan suara yang lembut dan penuh harapan, dia berkata, “Kamu adalah anak Tuhan.”
Pernyataan sederhana itu membuat saya berhenti sejenak. Ketika mendekatinya, saya melihat air mata mengalir di wajahnya. Dengan suara yang bergetar, ia berbisik, “Tolong doakan saya…”
Saya melihat betapa lemah fisiknya karena dia sedang menderita sakit yang cukup parah. Raut wajahnya jelas mencerminkan rasa sakit yang mendalam. Namun, di balik kesedihan itu, terdapat secercah harapan besar yang tersimpan di hatinya untuk Tuhan. Ini mengingatkan saya pada ayat-Nya dalam Yesaya 43:1b:
“Janganlah takut, karena Aku telah menebusmu; Aku telah memanggilmu dengan namamu; engkau adalah milik-Ku.”
Pelayanan yang Tidak Direncanakan
Tanpa ragu, saya setuju untuk mendoakannya. Di tempat itu—di tepi jalan, di tengah keramaian—saya menundukkan kepala dan mempersembahkan ibu itu kepada kasih Tuhan.
Saya yakin bahwa kekuatan Tuhan tidak dibatasi oleh tempat ibadah, lokasi, atau keadaan. Tuhan selalu dapat menyentuh setiap orang yang mendekat kepada-Nya dengan iman yang tulus.
Setelah berdoa, saya melanjutkan perjalanan. Namun, perasaan saya telah berubah. Ada campuran rasa haru, kesedihan, dan syukur memenuhi jiwa saya.
Kemudian saya bertanya pada diri sendiri: Mengapa ibu itu memanggil saya “anak Tuhan”?
Saya menyadari, mungkin itu bukan karena siapa saya atau seberapa baik penampilan saya. Ibu itu memberikan sebutan tersebut karena jiwanya tengah mencari seseorang—siapa pun—yang bersedia berhenti, mendengarkan, peduli, dan membawa beban beratnya kepada Tuhan.
Menjadi “Anak Tuhan” di Luar Dinding Gereja

Ilusrasi Menjadi Anak Tuhan di Luar Dinding Gereja Ragu itu biasa tetapi percaya bahwa kami dipilih untuk anak Tuhan Itu Istimewa seperti orang yang tidak pandang (editan Narinews.com).
Pengalaman ini memberikan saya pelajaran berharga sekaligus menyadarkan. Menjadi anak Tuhan ternyata bukan hanya sebutan rohani yang kita ucapkan di gereja setiap minggu.
Menjadi anak Tuhan berarti siap hadir dan “menggugu” (menjadi hamba) bagi mereka yang sedang mengalami luka, berduka, dan membutuhkan harapan. Sering kali, pelayanan terpenting kita sebagai hamba-Nya tidak terjadi di panggung megah, tetapi di pinggir jalan yang berdebu—ketika kita memilih untuk merendahkan diri, sejenak berhenti, dan merasakan penderitaan orang lain melalui doa.
Tindakan ini sangat sesuai dengan apa yang diajarkan dalam Matius 25:40:
“Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
Di sekitar kita, banyak orang yang menanggung beban yang luar biasa. Mereka tidak selalu memerlukan uang atau ceramah dengan jawaban yang rumit. Kadang-kadang, mereka hanya membutuhkan kehadiran: seseorang yang bersedia meluangkan beberapa menit untuk mendengarkan kesedihan mereka dan berdoa bersama kepada Bapa.
Menjadi Jawaban Doa Seseorang
Pengalaman singkat itu sangat berkesan bagi saya. Saya semakin yakin bahwa Tuhan masih aktif bekerja hingga kini melalui orang-orang yang bersedia membuka hati untuk dipakai. Kita mungkin tidak memiliki kemampuan medis untuk menyembuhkan setiap orang secara fisik, tetapi kita semua memiliki cinta untuk menjadi saluran penghiburan-Nya.
Melalui kejadian ini, firman Tuhan dalam Yohanes 15:16 terasa sangat nyata dan hidup bagi saya:
“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepada kamu. “
Semoga cerita sederhana ini mengingatkan kita semua agar tidak melupakan orang-orang di sekitar kita yang sedang mengalami kesulitan. Karena di balik setiap air mata yang kita lihat di jalan, mungkin Tuhan sedang memanggil kita untuk menjadi jawaban dari doa seseorang.
“Tuhan tidak selalu mengutus kita untuk melakukan hal-hal besar. Sering kali, Ia hanya meminta kita untuk sejenak berhenti, mendengarkan, dan berdoa. Bagi individu yang sedang terluka, tindakan sederhana itu adalah bukti nyata bahwa Tuhan masih peduli.”
Pertanyaan untuk Refleksi
Bagaimana denganmu? Apakah ada momen ketika seseorang tiba-tiba memanggilmu atau menyebutmu sebagai “anak Tuhan” di waktu yang tak terduga?
Jika iya, ingatlah bahwa kamu telah dipilih dari banyak orang untuk menjadi perwakilan-Nya. Jangan merasa terbebani, tetapi bersyukurlah kepada Tuhan karena Ia telah memilih dan mempercayaimu untuk menyampaikan kasih-Nya di dunia ini.
